benarlah kata mereka, orang-orang yang mendahului kita dalam cinta, bahwa rindu adalah genta yang apabila dia dibunyikan, maka gemanya akan menggetarkan dinding-dinding hati. dia membuat jiwa bergetar, suaranya bergemuruh, seriuh topan yang menderu dari utara.
bukankah kita sudah merasakannya sekarang? betapa perihnya hati yang didera rindu. yang ada hanya hasrat untuk bertemu, meski hanya bertemu lewat arus khayalan di sungai imajinasi insani.
rindu membuat mata memandang bulan separuh malam ibarat cermin tempat berkaca bagi kekasih. tempat berharap pantulan wajah yang pias menanti dapat tercandra oleh yang merindu dan dirindui. tempat berbagi kegelisahan hati, karena jarak yang terentang begitu panjang.
tapi apakah rindu hanya akan membalut jiwa-jiwa yang hidup dengan pisah? haruskah waktu yang terulur ini kita susuri detak nadinya agar pisah bisa kita impaskan dengan temu. relakah kau berjalan perlahan meniti masa dan membuat jarak diantara kita kian pintas?
Wednesday, February 15, 2006
Saturday, October 22, 2005
mEniKmaTi hiDup deNgan maTi berkaLikali
apakah kita tidak bisa menikmati hidup? dan tidak menyadari betapa berharganya dia? bahkan kita cenderung menyianyiakannya? sampai akhirnya mati sudah menjelang. baru kita tersadar atau minta tambahan umur. memang, telah menjadi hukum kebiasaan, kita baru bisa menghargai sesuatu melalui kebalikannya. kita menghargai hidup karena ada mati.
olehnya itu, agar hidup menjadi berharga, selalulah mengingati mati. tapi untuk menikmati hidup, itu bisa dilakukan dengan mati berkalikali. ini berarti bahwa kita harus bisa mematikan diri. sebelum ajal benarbenar menjemput. tentu mematikan diri, tidak dengan cara gantung diri, ataukah meminum racun serangga.
mematikan diri dapat dilakukan, dengan mematikan keinginankeinginan, meniadakan hasrathasrat yang berlebih, dan mengendalikan ambisiambisi.
bila itu sudah kau lakukan, kau akan menemukan hidup yang sederhana. hidup yang hampa keinginan, hambar dengan hasrat dan ambisi, tapi bergelimang harapan suci.
menikmati hidup yang demikian sederhana.
olehnya itu, agar hidup menjadi berharga, selalulah mengingati mati. tapi untuk menikmati hidup, itu bisa dilakukan dengan mati berkalikali. ini berarti bahwa kita harus bisa mematikan diri. sebelum ajal benarbenar menjemput. tentu mematikan diri, tidak dengan cara gantung diri, ataukah meminum racun serangga.
mematikan diri dapat dilakukan, dengan mematikan keinginankeinginan, meniadakan hasrathasrat yang berlebih, dan mengendalikan ambisiambisi.
bila itu sudah kau lakukan, kau akan menemukan hidup yang sederhana. hidup yang hampa keinginan, hambar dengan hasrat dan ambisi, tapi bergelimang harapan suci.
menikmati hidup yang demikian sederhana.
Friday, October 21, 2005
al-Qur'An yanG eroTis daN roManTis
seringkali kita menemukan, orang enggan membaca al-qur’an, atau ogah ikut pengajian al-qur’an. penyebabnya hanyalah persoalan sepele. al-qur’an hanya selalu menakutnakuti. dia selalu mengeluarkan ancaman, dan menceritakan kemurkaan allah.
hal ini diakibatkan oleh cara kita mensosialisasikan al-qur’an. al-qur’an menjadi momok yang menakutkan, al-qur’an menjadi kitab yang meyeramkan. karena kita hanya selalu menceritakan sisi itu.
tidak bisa dipungkiri, memang al-qur’an menceritakan ancaman dan siksa, tapi dia juga mendedahkan janji dan ampunan, dia juga menjelaskan nikmat dan anugrah.
nah… tinggal cara kita, apakah kita bisa mengemas isi al-qur’an, menjadi menyeramkan dan menakutkan, ataukah kita menjadikannya nikmat, erotis dan romantis.
misalnya tentang kematian, cerita tentangnya tak ubah cerita horor, dia menteror dan mentakutkan. padahal kematian adalah hal yang pasti. bukankah lebih baik, kalau kematian itu diceritakan menarik? sebagai sebuah kepastian yang pantas disambut dengan gembira? dan bukannya sebagai sebuah akhir dari segalanya?
ceritakanlah sebuah mati yang erotis dan romantis!
hal ini diakibatkan oleh cara kita mensosialisasikan al-qur’an. al-qur’an menjadi momok yang menakutkan, al-qur’an menjadi kitab yang meyeramkan. karena kita hanya selalu menceritakan sisi itu.
tidak bisa dipungkiri, memang al-qur’an menceritakan ancaman dan siksa, tapi dia juga mendedahkan janji dan ampunan, dia juga menjelaskan nikmat dan anugrah.
nah… tinggal cara kita, apakah kita bisa mengemas isi al-qur’an, menjadi menyeramkan dan menakutkan, ataukah kita menjadikannya nikmat, erotis dan romantis.
misalnya tentang kematian, cerita tentangnya tak ubah cerita horor, dia menteror dan mentakutkan. padahal kematian adalah hal yang pasti. bukankah lebih baik, kalau kematian itu diceritakan menarik? sebagai sebuah kepastian yang pantas disambut dengan gembira? dan bukannya sebagai sebuah akhir dari segalanya?
ceritakanlah sebuah mati yang erotis dan romantis!
Subscribe to:
Posts (Atom)