sebelum tulisan ini menjadi begitu panjang, izinkanlah saya menghaturkan sebesar-besarnya maaf bagi para pencinta formalisme dan ketaatan semu. Hal ini menjadi penting karena mungkin saja tulisan ini akan menyinggung perasaan anda dan mengganggu stabilitas jiwa saudara. Tapi walaupun tanpa maaf, tulisan ini akan tetap kulanjutkan, jadi..... tabe’ di....
sudah hampir sebulan ini, kebijakan baru muncul di kantor.... pelaksanaan apel di perketat. Bahkan kebijakan ini diikuti dengan penyediaan absen khusus apel yang berbeda dari absen kerja pagi dan sore.
Sebenarnya persoalan utamanya bukan pada keharusan mengikuti apel pagi, melainkan pada proses pelaksanaan apel pagi tersebut. Sejak 02 februari yang lalu, baru empat kali saya mengikuti apel pagi, itupun baru dua kali saya mengisi daftar hadir peserta apel.
Kehadiran absen apel bukannya membuat saya makin rajin, malah jenuh dengan rutinitas apel ini. Bagaimana tidak, pelaksanaan apel pagi terkesan asal-asalan dan hanya mengejar formalisme kehadiran yang dibuktikan dengan adanya tanda tangan di daftar hadir apel.
Ketika pemimpin apel menyiapkan barisan, kemudian memberi penghormatan umum kepada pembina apel sampai pada saat pembina apel memimpin doa, tak ada kesan sakral yang terasa. Yang terdengar malah celoteh dan cekikikan para pegawai yang mengikuti apel, entah menggosipkan apa dan mentertawakan siapa.
Setelah apel dibubarkan, maka rutinitas yang lebih lucu bagi saya adalah, para peserta apel antri dengan sangat tidak rapi untuk membubuhkan teken di daftar hadir apel. Bahkan terkadang saling berebut, sepertinya inti dari apel pagi adalah pada formalitas tanda tangan di absensi.
Apakah ini substansial, sehingga kebijakan menghadirkan absensi apel pagi ini dikeluarkan? Kalau sekedar ini, maka sungguh merugilah orang-orang yang apel dan hanya datang untuk berburu absensi. Merekalah orang-orang yang lebih mementingkan formalitas kehadiran yang belum tentu berimplikasi positif bagi produktivitas kerja.
Bagi saya, tentu pelaksanaan apel pagi akan lebih bermakna apabila pelaksanaannya tidak sekedar formalitas yang hampa. Alangkah indahnya bila dalam pelaksanaan apel kita menemukan aura kebersamaan yang terbangun melalui sepatah dua kata dari pembina apel yang bisa memotivasi kinerja kita dihari itu.
Selain itu, apel pagi juga bisa menjadi sarana untuk menyampaikan beragam informasi yang dibutuhkan oleh semua pegawai, semisal pengumuman tentang pelaksanaan upacara “hari kesadaran nasional” 17 agustus tiap bulan. Baik itu tentang siapa saja yang bertugas, serta mengingatkan peserta pakai baju apa.
Ataukah misalnya informasi tentang adanya pengusulan pegawai yang yang akan diusulkan menerima penghargaan satyalancana serta berkas apa yang harus disiapkan. Ataukah pengumuman lain yang menjadi informasi penting bagi para pegawai.
Dan yang lebih penting adalah kesadaran dari semua peserta apel pagi untuk memperlakukan apel pagi tidak hanya sebagai rutinitas semu dan ritus hampa, serta untuk berburu tanda tangan di daftar hadir. Selayaknya apel pagi dimaknai sebagai medium konsolidasi hati dan pikiran untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan melayani publik dengan standar pelayanan yang memadai sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing personil pegawai.
Saatnya apel pagi diperlakukan bukan sebagai kewajiban melainkan sebagai kebutuhan. Apakah itu mungkin? Itu semua tergantung pada bagaimana format pelaksanaan apel pagi yang dipraktekkan. Yang pasti, bila apel pagi menjadi sesuatu yang menarik, maka saya akan menjadi rajin ikut apel pagi. Terus terang selama ini saya malas ikut apel karena saya tidak melihat signifikansi positif keikutsertaan saya dalam apel pagi dengan produktivitas kerja saya pada hari itu di kantor.
Sekali lagi, Tabe’ di..............................
Thursday, February 26, 2009
Wednesday, February 25, 2009
keikhlasan dalam jama’ah...
sore hari, pas mau melaksanakan shalat ashar berjamaah di mushalla kantor, ada kejadian yang membuat saya menjadi terhenyak beberapa jenak. Betapa tidak, peristiwa tersebut menelusup ke dalam relung hati dan imaji politik saya.
saat iqomat selesai dikumandangkan oleh pak zulfikar dan shalat akan segera didirikikan, masalah muncul, siapa yang akan jadi imam? Pak Budiman yang selama beberapa hari terakhir senantiasa menjadi imam sedang tugas di luar kantor, otomatis harus mencari imam baru.
Pandangan para jama’ah kemudian tertuju kepada Pak mukrimin bakri yang selama ini juga biasa menjadi imam. Namun dengan suara lantang beliau menolak, “kakiku masih sakit karena kecelakaan motor, duduk saya menjadi kurang sempurna, saya khawatir mengganggu ke khusyu’an sholat jama’ah kita”.
Setelah itu, pak zulfikar menjadi target man selanjutnya, beliaupun menolak, “wah, tidak bisa begitu. Saya yang adzan, barusan juga saya yang iqamat, kalau bisa yang lain saja”. Wah shalat jamaah terancam bubar nih kalau tidak ada yang jadi imam.
Serta-merta pak surahmanta dengan halus mendorong pak yuswan yasir ke tempat imam dan berujar, “kamu saja, kan gubernur saja kamu pimpin baca doa kalau ada acara”. Pak yuswan yang memang sering baca doa kalau ada acara di kantor tidak punya alasan berkelit, dengan memantapkan hati beliau memimpin sholat jama’ah.
Tapi sebelum shalat benar-benar ditegakkan, pak surahmanta kembali berguman, “wah, seandainya pemilihan presiden seperti ini, betapa indahnya...” sebuah pemilihan pemimpin yang tidak dijalani dengan pencalonan yang jor-joran, tapi seorang pemimpin yang lahir karena pengakuan dan penerimaan yang ikhlas dari semua jama’ah.
Kami semua menjalani shalat ashar berjama’ah sore itu dengan tingkat kekhusyu’an yang lebih. Itu karena jama’ah dibangun diatas fondasi keikhlasan. Para jama’ah dengan ikhlas menerima imam yang memimpinnya, dan tentu sang imam juga ikhlas menerima amanah kepemimpinan.
saat iqomat selesai dikumandangkan oleh pak zulfikar dan shalat akan segera didirikikan, masalah muncul, siapa yang akan jadi imam? Pak Budiman yang selama beberapa hari terakhir senantiasa menjadi imam sedang tugas di luar kantor, otomatis harus mencari imam baru.
Pandangan para jama’ah kemudian tertuju kepada Pak mukrimin bakri yang selama ini juga biasa menjadi imam. Namun dengan suara lantang beliau menolak, “kakiku masih sakit karena kecelakaan motor, duduk saya menjadi kurang sempurna, saya khawatir mengganggu ke khusyu’an sholat jama’ah kita”.
Setelah itu, pak zulfikar menjadi target man selanjutnya, beliaupun menolak, “wah, tidak bisa begitu. Saya yang adzan, barusan juga saya yang iqamat, kalau bisa yang lain saja”. Wah shalat jamaah terancam bubar nih kalau tidak ada yang jadi imam.
Serta-merta pak surahmanta dengan halus mendorong pak yuswan yasir ke tempat imam dan berujar, “kamu saja, kan gubernur saja kamu pimpin baca doa kalau ada acara”. Pak yuswan yang memang sering baca doa kalau ada acara di kantor tidak punya alasan berkelit, dengan memantapkan hati beliau memimpin sholat jama’ah.
Tapi sebelum shalat benar-benar ditegakkan, pak surahmanta kembali berguman, “wah, seandainya pemilihan presiden seperti ini, betapa indahnya...” sebuah pemilihan pemimpin yang tidak dijalani dengan pencalonan yang jor-joran, tapi seorang pemimpin yang lahir karena pengakuan dan penerimaan yang ikhlas dari semua jama’ah.
Kami semua menjalani shalat ashar berjama’ah sore itu dengan tingkat kekhusyu’an yang lebih. Itu karena jama’ah dibangun diatas fondasi keikhlasan. Para jama’ah dengan ikhlas menerima imam yang memimpinnya, dan tentu sang imam juga ikhlas menerima amanah kepemimpinan.
Friday, February 20, 2009
mendefenisikan masalah
dalam mengarungi hidup ini, kita selalu diperhadapkan dengan berbagai macam pilihan. Pilihan-pilihan itu, sebenarnya tidak ada yang lepas dari masalah, namun yang diinginkan adalah, kita melakukan pilihan dengan meminimalkan masalah yang di timbulkan dari pilihan itu.
agar kita mampu memilah pilihan mana yang paling minimal resikonya, maka dibutuhkan kemampuan untuk mendefenisikan masalah. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh orang yang tidak gila atau orang yang sadar akan potensi dirinya.
defenisi orang yang tidak gila disini tidak mengacu pada pengertian medis, namun ini diartikan sebagai simbolis, sebagaimana salah satu riwayat rasulullah SAW berikut ini.
pada suatu hari, rasulullah saw melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya, ”Karena apa kalian berkumpul disini?” Sahabat menyawab, ”Ya Rasullullah, ini ada orang gila sedang mengamuk, karena itulah kami berkumpul disini.” Beliau bersabda, ”Orang ini bukan gila., Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian gila yang benar-benar gila al-maynun haqqal maynun?” Para sahabat menyawab, “Tidak, Ya Rasulullah.”
Beliau menyelaskan, ”Orang gila ialah orang yang beryalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan. Yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang keyelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah saya.”
Dari riwayat diatas dapat dilihat bahwa orang gila itu adalah orang yang tidak sadar posisi, fungsi dan perannya, sehingga dia tidak tahu mendefenisikan sesuatu, apakah itu masalah atau bukan bagi diri dan lingkungan dan lembaganya.
Ketidakmampuan mendefenisikan masalah biasanya muncul karena kita tidak mengetahui posisi, fungsi dan peran kita di tengah sebuah struktur sosial, dan yuga adanya ketidakyelasan arah dan tuyuan dari tindakan yang kita lakukan.
Seringkali hal ini yuga dipengaruhi oleh tingginya subyektivitas kita dalam melihat dan menganalisis sesuatu, sehingga kadang, bahkan senantiasa kita menuntut agar orang lainlah yang harus mengerti dan memahami kedudukan kita, dan kita enggan untuk mencoba memahami orang lain.
Ini semua karena keengganan kita untuk membangun sebuah komunikasi yang intens dan lebih cendrung memilih diam dan terpaku serta memaki orang lain dalam hati. Kita membangun sebuah benteng pertahanan untuk mengantisipasi serangan yang sebenarnya hanya ada dalam angan-angan kita.
Seperti inilah orang-orang yang disinyalir oleh Rasulullah dalam haditsnya diatas, sebagai al-maynun haqqal maynun. Orang yang merasa diri lebih, karena itu menuntut hak-hak dan ingin diperlakukan secara istimewa, Bila sudah seperti ini, lalu apa bedanya kita dengan Iblis La’natullah Alaihi? (Lihat Q.S. 2 : 34)
agar kita mampu memilah pilihan mana yang paling minimal resikonya, maka dibutuhkan kemampuan untuk mendefenisikan masalah. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh orang yang tidak gila atau orang yang sadar akan potensi dirinya.
defenisi orang yang tidak gila disini tidak mengacu pada pengertian medis, namun ini diartikan sebagai simbolis, sebagaimana salah satu riwayat rasulullah SAW berikut ini.
pada suatu hari, rasulullah saw melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya, ”Karena apa kalian berkumpul disini?” Sahabat menyawab, ”Ya Rasullullah, ini ada orang gila sedang mengamuk, karena itulah kami berkumpul disini.” Beliau bersabda, ”Orang ini bukan gila., Ia sedang mendapat musibah. Tahukah kalian gila yang benar-benar gila al-maynun haqqal maynun?” Para sahabat menyawab, “Tidak, Ya Rasulullah.”
Beliau menyelaskan, ”Orang gila ialah orang yang beryalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan. Yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepada-Nya, yang keyelekannya membuat orang tidak aman dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah saya.”
Dari riwayat diatas dapat dilihat bahwa orang gila itu adalah orang yang tidak sadar posisi, fungsi dan perannya, sehingga dia tidak tahu mendefenisikan sesuatu, apakah itu masalah atau bukan bagi diri dan lingkungan dan lembaganya.
Ketidakmampuan mendefenisikan masalah biasanya muncul karena kita tidak mengetahui posisi, fungsi dan peran kita di tengah sebuah struktur sosial, dan yuga adanya ketidakyelasan arah dan tuyuan dari tindakan yang kita lakukan.
Seringkali hal ini yuga dipengaruhi oleh tingginya subyektivitas kita dalam melihat dan menganalisis sesuatu, sehingga kadang, bahkan senantiasa kita menuntut agar orang lainlah yang harus mengerti dan memahami kedudukan kita, dan kita enggan untuk mencoba memahami orang lain.
Ini semua karena keengganan kita untuk membangun sebuah komunikasi yang intens dan lebih cendrung memilih diam dan terpaku serta memaki orang lain dalam hati. Kita membangun sebuah benteng pertahanan untuk mengantisipasi serangan yang sebenarnya hanya ada dalam angan-angan kita.
Seperti inilah orang-orang yang disinyalir oleh Rasulullah dalam haditsnya diatas, sebagai al-maynun haqqal maynun. Orang yang merasa diri lebih, karena itu menuntut hak-hak dan ingin diperlakukan secara istimewa, Bila sudah seperti ini, lalu apa bedanya kita dengan Iblis La’natullah Alaihi? (Lihat Q.S. 2 : 34)
Subscribe to:
Posts (Atom)