Sunday, June 03, 2007

Menikmati Suasana Dingin Malino

Dingin, udara berhembus semilir. Deru angin disertai butiran-butiran rinai membasuh muka yang terpasang, sengaja menantang datangnya rintik hujan.

Tak pernah kurasai suasana dingin sesublim ini, imajiku tergelitik untuk menggores beberapa puisi yang mengendap dalam nurani. Untaian kata kurangkai perlahan membentuk bait, menyusun kalimat-kalimat pendek, menjadi rima yang memuat makna yang menggumpal.

Dalam ramai dan canda tawa yang riuh dari sahabat seperjalanan, masih sempat kuselipkan kesendirian di tengah-tengah keriuhan itu. Ya, kunikmati sunyi dengan menjernihkan pendengaran untuk menikmati derai dedaun yang ditempa bulir-bulir air yang seakan tertumpah secara teratur dari angkasa yang mengabu-abu.

Aku larut dalam irama sunyi yang harmonis, lagu alam dengan ritmik yang teratur. Suasana itu membelaiku dengan manja, ingin rasanya terus terlelap di pangkuan alam yang syahdu. Sayang aku harus beranjak pulang dan aku tak sendiri...

aku juga menikmati keramaian di bawah curahan air terjun bersama rekan...

Tuesday, May 29, 2007

Kudapat Juga Buku Itu

setelah mencari beberapa hari dengan rasa penasaran yang menggumpal, akhirnya terpuaskan juga pencarian panjang itu.

Eureka, aku menemukannya... Ya, telah kutemukan. Sebuah buku yag tidak terlalu tebal dengan cover putih dan tulisan judul bertinta emas “Malaikat Menulis Dengan Jujur”. Buku yang di tulis oleh Ida Azuz telah berhari-hari merongrong hasrat pencarianku akan bacaan yang bermutu.

Begitu kudapatkan buku itu, langsung saja helai demi helai halamannya kulahap dengan nikmat.
Penggal demi penggal kalimatnya kunikmati perlahan, kucerna makna yang dititp dalam jejeran aksara latin yang terpatri.

Pada bagian awal, aku serasa ketemu langsung dan mendengar sang penulis bertutur. Namun perlahan, makin dalam kubaca, makin larut rasaku. Aku masuk dan tenggelam dalam lautan kenyataan yang terpapar secara detail.


Aku ikut merasakan panggilan adzan di Mesjid Al Mukhlishin Batu Gantung Waringin. Suara panggilan ilahi yang mendayu-dayu ini seperti menggamit kalbu, mengajakku ruku’, tersungkur berlutut, bersujud dan tenggelam dalam doa yang syahdu.


Aku merasa hidup, tumbuh dan membangun diriku disana, di dalam kawasan Batu Gantung Waringin Ambon yang dilipat dalam helai-helai lembaran “Malaikat Menulis Dengan Jujur” yang diukir oleh seorang pemahat kata-kata, Faidah Azuz. Aku kagum padamu kanda.

Tuesday, May 22, 2007

penyerahan piagam yang gagal

pagi ini rencananya aku akan menghadiri upaya harkitnas tingkat provonsi Sulawesi selatan.
ini juga terkait dengan terpilihku menjadi juara dua lomba menulis.

setelah komunikasi dengan ibu tuty razak sebagai penanggungjawab,
kuputuskan untuk menghadiri acara tersebut.

dengan berangkat sendiri, aku melangkah mantap menuju tempat upacara.
seklitar 15 menit sebelum pukul delapan pagi (jadwal uapcara yang telah ditentukan)
aku tiba di kantor gubernur sulawesi selatan.

tiba-tiba tak lama berselang, tit..tit..tit..
"dimana sekarang? anda ditunggu di tempat upacara"
sebuah esemes dari ibu tuty razak.
aku menjadi pangling, loh..aku sudah di lokasi nih.
"upacaranya diadakan di rumah jabatan gubernur"

tuing..tuing..tuing...
ternyata aku salah lokasi, jadi tengsin abis bro...
dengan langkah yang dipercepat + segala ikhtiar
aku memburu kelokasi yang tepat.
dan tepat benar, aku tiba tepat ketika upacara berakhir...

item acara penyerahan piagam kepada para pemenang lomba dihilangkan.
yang hadir menghadiri upacara haya ibu Faidah azuz sang juara satu
tiba-tiba ibu tuty razak nyeletuk bercanda, tapi nyinggung juga sih
"gimana nih kasman? kamu sih pinter nulis, tapi kok telat"
aku hanya bisa memohon maaf berkali-kali...

kasman...kasman....
kebiasaan buruk kok dipiara?
jadi malu sendiri nih................................. :)