Monday, May 21, 2007
Aku dapat Juara?
tit..tit..tit... hapeku berbunyi, sebuah esemes bertamu.
isinya singkat saja
"Selamat anda juara 2, baca pedoman rakyat hari ini halaman 17"
esemes tersebut berasal dari ibu tuty razak
penanggung jawab lomba karya tulis
dalam rangka hari harkitnas 2007
yang diselenggarakan oleh Infokom & PDE Provinsi Sulsel
kerjasama dengan Harian Umum Pedoman Rakyat.
bergegas aku pergi mencari harian umum pedoman rakyat yang dimaksud.
ternyata benar, namaku tercantum disitu sebagai juara 2.
tertulis diantara nama Faidah azuz, dosen Fak. Pertanian Univ 45 Makassar (sebagai juara I)
dan Dahlan Abubakar, dosen Fak Sastra Unhas (sebagai juara II)
yang membuatku merasa geli adalah dalam pengumuman tersebut, pekerjaanku adalah penulis.
aku tertawa sendiri, ternyata aku bukan pengangguran... hik..hik..hik..
menurut pengakuan ibu tuty razak, beliau kesulitan menuliskan apa di kolom pekerjaanku.
makanya beliau menuliskan "penulis" aja...
ternyata profesi kepenulisanku diakui juga meki karena keadaan yang memaksa.
aku merasa lucu aja, ternyata tanpa pekerjaan tetap susah juga ya...
tapi yang jelas aku bisa menulis dan bisa membuktikan bahwa
aku tidak hanya bisa menulis di diary doang...
Wednesday, May 09, 2007
Aku Sakit Lagi
Setelah nginap semalam di Palopo, aku langsung balik ke Makassar. Akibat aku kehujanan ketika pelaksanaan pelatihan menulis dalam sehari. Badanku menjadi panas, aku demam. Tapi aku merasa demamku kali ini bukan demam biasa, aku merasa puas dengan pelaksanaan pelatihan kemarin. Rasa capek dalam perjalanan selama 8 jam dan meriang yang kualami bisa terimpaskan dengan kembali membayangkan pelaksanaan pelatihan. Betapa besar ekspektasi mereka terhadap dunia kepenulisan.
Sunday, May 06, 2007
Puas Banget
Seharian aku di Aula Kampus Universitas Cokroaminoto Palopo. Aku hadir sebagai fasilitator tunggal dalam pelatihan menulis dalam sehari. Acara yang diikuti oleh sekitar 30an peserta dari berbagai SMA, SMK, MA dan sederajat se kota Palopo ini berlansung di bawah kucuran hujan yang sangat deras.
Sepulang dari pelatihan aku menyempatkan diri untuk menamatkan pembacaan atas novel “Ketika Cinta Bertasbih” dari Habiburrahman. Aku begitu terobsesi oleh kisah cinta Fadhil dengan Tiara yang harus berakhir demikian pelik. Ternyata romantisme cinta para aktivis dakwah tidak kalah platonisnya dari aktivis biasa.