Wednesday, October 04, 2006

Aku Mimpi Tentangnya

tadi siang aku mimpi, mimpi tentang seseorang yang . . . aku melihat dia terbaring tak berdaya, dia sakit . . . aku juga tidak tahu, apakah ini sekedar bunga mimpi.

Tapi setelah aku terbangun, mimpi itu menghantuiku terus, aku merasa dia sedemikian nyata. Aku tak bisa melakukan apa-apa ketika jarak demikian berjauhan. Aku hanya bisa mencoba mengirim selafadz doa sederhana semoga Allah senantiasa melindunginya.

Amin...

Monday, October 02, 2006

Pesan Yang Menggerakkan

Semalam aku dapat sms yang memberiku nasehat untuk memanfaatkan setiap detik ramadhan ini secara optimal untuk beribadah kepada Allah. Terus terang, ibadah yang paling aku malas selama ramadhan adalah tarwih.

Ketika mengetahui aku sering mengganti tarwihku dengan shalat lail saja, sahabat hati itu mengingatkan agar aku tidak menyepelekan tarwih. Meskipun sunah tapi kan kesempatan untuk melaksanakannya tidak datang setiap malam, katanya.

Aku begitu terharu membaca pesan itu. Aku tersadar, telah sembilan ramadhan berlalu dan baru satu malamku yang kuisi dengan tarwih, selebihnya kuganti dengan shalat lail. “tak ada salahnya melaksanakan dua-duanya kan?” kata sahabat hati itu lagi.

Aku terhenyak lalu berjanji dalam hati... insya Allah mulai malam nanti aku akan ikut karnaval ibadah tarwih. Tapi aku ragu apa aku bisa ikhlas melakukan ini karena Allah? Soalnya, sms itu datang dari seorang sahabat hati yang kebetulan akhwat... Jangan-jangan aku riya jadinya...... Ya Allah beri aku kekuatan untuk meluruskan niat ibadahku kepadamu.

Sunday, October 01, 2006

Buka Dengan Tamsil Linrung

Puasa di hari kedelapan ramadhan ini aku impaskan di rumah seorang yang pemurah, Bang Tamsil Linrung. Aku tak sendiri disana, aku hadir bersama sahabat-sahabat hati. Sebelum waktu berbuka tiba, tausyiah mengalir dari mulut Bang Zulkifli Halim. Beliau membincang tentang pentingnya rekayasa untuk memajukan umat Islam dimasa yang akan datang.

Terus terang, ada yang berubah pada kebiasaan saya malam ini. Jika sebelumnya aku menghindari makanan yang bernama korma, maka pada malam ini aku begitu menikmati buah dari negeri para nabi. Entah kenapa aku begitu menikmati kormanya, mungkin karena makannya dirumah anggota DPR RI kali ya?

Sambil menunggu waktu tarwih kami bercengkerama dengan santun tentang berbagai macam persoalan, mulai dari persoalan membantu sahabat hati yang masih nganggur (seperti aku hik...) sampai pada persoalan impor beras.

Yang pasti Allah Maha Melihat, sungguh beruntung orang-orang yang diberikan kelebihan olehNya dan mereka memanfaatkan kelebihan tersebut untuk membantu dan menolong saudaranya yang membutuhkan.